Minggu, 28 September 2014
Amal saleh:
macamnya tidak terkira, sebagian merupakan A’malul qulub (perbuatan hati), seperti; Iman yang merupakan amal paling utama, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ» »
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari)
cinta dan benci karena Allah, takut kepada Allah (Khouf), berharap kepadaNya (Roja’), Husnud-Dzon, mengingat Allah, Tafakkur akan tanda-tanda kekuasanNya, meninggalkan hasad, sifat riya’ su’ud-dzon, takabbur, ridlo dengan kemaksiatan dan kekufuran. Sebagian merupakan A’maalul Jawarih (perbuatan anggota tubuh), seperti; Shalat, Zakat, Puasa Haji, Amar ma’ruf nahi munkar, Jihad, ucapan Tahlil, Tasbih, Tahmid dan Takbir, tidak berzina, tidak mencuri, tidak minum khamr, tidak berghibah, tidak berkata kotor.
Amal Saleh merupakah cabang dari pohon Iman, maka semakin banyak cabangnya, berarti semakin tinggi dan semakin besar pohon itu. Dari itu para Ulama’ mengatakan; Iman dapat bertambah dan berkurang. Ia bertambah dengan bertambahnya Amal.
Dikarenakan keutamaan dan kedudukan Iman sebagai pondasi amal, maka antara Iman dan Amal Saleh penyebutannya lebih sering dipisah. Dan karena kata Amal Saleh lebih banyak tertuju kepada perbuatan anggota badan, maka pembahasan dalam bab ini lebih tertuju pada Amal Jawarih saja.
Tujuan dari Amal
Inti dan tujuan dari didirikannya Amal saleh adalah Dzikir kepada Allah taala. Ia berfirman mengenai tujuan didirikanya Shalat yang mana Shalat laksana induk bagi seluruh amal ibadah;
وَأَقِمِالصَّلاَةَلِذِكْرِي
Dirikanlah Shalat untuk mengingatku. (Thaha 14)
Imam As-Syahid Hasan Al-Banna berkata;
واعلم يا أخي أن الذكر ليس المقصود به الذكر القولي فحسب بل إن التوبة ذكر، والتفكر من أعلى أنواع الذكر، وطلب العلم ذكر، وطلب الرزق إذا حسنت فيه النية ذكر، وكل أمر راقبت فيه ربك وتذكرت نظره إليك ورقابته فيه عليك ذكر, ولهذا كان العارف ذاكرا على كل حالاته.
“Ketahuilah saudaraku, bahwasanya Dzikir tidaklah tujuannya adalah Dzikir ucapan saja, akan tetapi sesungguhnya Taubat adalah Dzikir, tafakkur termasuk kedalam macam Dzikir yang paling luhur, mencari ilmu (agama) adalah Dzikir, mencari rizki -jika niatnya baik- adalah Dzikir, dan setiap perkara yang kau jadikan ia untuk mendekatkan diri kepada Tuhanmu, dan kau mengingat-ingat pandanganNya padamu, serta pengawasanNya atasmu adalah Dzikir. Dari itu para ‘Arif adalah orang yang senantiasa berdzikir dalam setiap tingkah lakunya.”[1]
Jadi, Dzikir adalah ruh dari amal, setiap amal yang tidak ada Dzikir di dalamnya adalah kosong dan hampa, seperti halnya jasad yang tidak ada ruhnya adalah jasad yang mati. Ketika Shalat, Dzikirnya adalah dengan konsentrasi, mengangan-angan dan menghayati apa yang kita baca, menghayati gerakan-gerakan yang kita lakukan. Begitu juga ketika membaca Al-Quran, yakni dengan memahami dan menghayati maknanya. Ketika berzakat atau bersedekah -misalnya- dengan mengingat bahwa ia melakukan ini semata melaksanakan perintahNya dan demi mengharap ridloNya. Karena itu dalam hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan;
عَنْسَهْلِبْنِمُعَاذٍعَنْأَبِيهِعَنْرَسُولِاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَأَنَّرَجُلًاسَأَلَهُفَقَالَأَيُّالْجِهَادِأَعْظَمُأَجْرً ا
قَالَأَكْثَرُهُمْلِلَّهِتَبَارَكَوَتَعَالَىذِكْرًا
قَالَفَأَيُّالصَّائِمِينَأَعْظَمُأَجْرًا
قَالَأَكْثَرُهُمْلِلَّهِتَبَارَكَوَتَعَالَى ذِكْرً ا
ثُمَّذَكَرَلَنَاالصَّلَاةَوَالزَّكَاةَوَالْحَجَّوَالصَّدَقَةَكُلُّذَلِكَرَسُولُاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَيَقُولُأَكْثَرُهُمْلِلَّهِتَبَارَكَوَتَعَالَىذِكْرًا
Dari sahl bin Muadz bin Anas Al Juhani, dari Rasulullah, sesungguhnya seorang laki-laki menanyai beliau,”jihad apakah yang paling besar pahalanya? Beliau menjawab, “Yang paling banyak diantara mereka berdzikir kepada Allah Tabaroka Ta’ala” lalu dia bertanya: orang puasa apakah yang paling besar pahalanya? Beliau menjawab, “Yang paling banyak diantara mereka berdzikir kepada Allah Tabaroka Ta’ala. Dan dia menanyakan juga sholat zakat, haji dan shodakoh . setiap itu pula Rasulullah menjawab: “Yang paling banyak diantara mereka berdzikir kepada Allah Tabaroka Ta’ala. (HR. Ahmad)
Hadits diatas menunjukkan besar kecilnya pahala yang diberikan dalam sebuah ibadah tergantung seberapa besar dzikir yang ada di dalamnya. Sebuah ibadah yang dibilang sepele bisa jadi merupakan ibadah yang agung dikarenakan disertai dengan banyak dan besarnya dzikir di dalamnya, seperti mengikhlaskan niat hanya untuk Allah, Syukur, Mahabbah (cinta), Ta’dzim (pengagungan), takut (khouf), Roja’, merasakan adanya pengwasanNya dan lain sebagainya.
Paling minimal Dzikir yang dilakukan pada setiap amal ibadah adalah dengan meniatkannya untuk mengabdi hanya padaNya serta bersyukur pada karuniaNya.
وَمَاخَلَقْتُالْجِنَّوَالْإِنْسَإِلَّالِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Ad-Dzariyat 56)
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan Shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (Al-Bayyinah 5)
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Al-Baqarah 152)
عنأبيهريرةعنالنبيصلىاللهعليهوسلمقال: (إناللهتباركوتعالىيقول: ياابنأدمإنكإذاذكرتنىشكرتنى, وإذانسيتنىكفرتنى)
“Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman: “Wahai keturunan Adam, sesungguhnya apabila kamu berdzikir kepadaKu, maka kamu sungguh telah bersyukur kepadaKu, dan apabila kamu lupa, maka kamu telah kufur kepadaKu”. (HR. Thabrani)
Dzikir adalah tujuan besar dari setiap Ibadah, setelah itu adalah Tazkiyatun-Nufus, yakni pembersihan diri. Allah berfirman tentang Shalat;
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Dan dirikanlah Shalat, sesungguhnya Shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Akan tetapi sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar. (Al-Ankabut 45)
Imam Ibnu Katsir berkata mengenai Ayat ini;
يعني: أنالصلاةتشتملعلىشيئين: علىتركالفواحشوالمنكرات، وعلىذكراللهتعالى،وهوالمطلوبالأكبر
Yakni; Shalat mencakup atas dua perkara; mencakup atas meninggalkan perkara keji dan munkar, dan mencakup atas Dzikir (mengingat) Allah Ta’ala, itulah tujuan terbesar.[2]
Apa yang diucapkan oleh Imam Ibnu Katsir juga diucapkan oleh guru beliau yakni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.[3]
Allah juga berfirman;
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (QS 11/114)
عَنْ مُعَاذٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ يَا مُعَاذُ أَتْبِعْ السَّيِّئَةَ بِالْحَسَنَةِ تَمْحُهَا وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Dari Mu’adz; bahwasanya Rasulullah Saw berkata padanya; “Wahai Mu’adz ikutilah kejelekan dengan kebaikan dan bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik. (HR. Ahmad)
Allah berfirman;
وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar. (At-Taghabun/11)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
Hai orang-orang berIman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqan (kemampuan untuk membedakan yang hak dan batil). Dan kami hapuskan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Anfal/29)
Namun hanya dosa kecil saja yang dapat dilebur oleh amal, sedang dosa besar diharuskan untuk Taubat dikarenakan Firman Allah;
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS 4/31)
Imam Ibnu Sholah berkata;
والصغائر قد تمحى من غير توبة بالصلوات وغيرها كما جاء به الكتاب والسنة وذلك أن فاعل الصغيرة لو أتبعها حسنة أو حسنات وهو غافل عن التندم والعزم على عدم العود المشترطين في صحة التوبة لكان ذلك ماحيا لصغيرة ومكفرا لها كما ورد به النص وإن لم توجد منه التوبة لعدم ركنها لا لتلبسه بأضدادها
“Dosa kecil terkadang dihapus dengan tanpa Taubat oleh Shalat dan yang lainnya seperti yang telah disebutkan oleh Al-Kitab Dan Sunnah. Demikian adalah bahwasanya pelaku dosa kecil sekiranya ia mengikutinya dengan perbuatan baik sedang ia lupa akan penyesalan (terhadap dosa itu), dan juga lupa akan tekad untuk tidak akan kembali melakukan, yang dimana keduanya disyaratkan pada sahnya Taubat, pastilah amal baik itu melebur dosa kecilnya dan menghapusnya, seperti yang telah diberitakan oleh Nash (Al-Quran/Hadits), walaupun tidak ditemukan Taubat darinya, dikarenakan tidak terpenuhinya rukun Taubat, tidak karena ia melakukan perkara yang bertentangan dengan Taubat. “[4]
Sebagian Amal yang dapat menghapus dosa
Secara umum, setiap amal walaupun mengandung sedikit usaha dapat melebur dosa dikarenakan keumuman Firman Allah diatas. Namun disini kami akan menyebutkan sebagian Hadits yang menyebutkan secara khusus beberapa amal yang mampu melebur dosa.
1-Shalat
عن أبي هريرة; أنه سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول (أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ، قَالُوا; لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا، قَالَ; فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا)
Dari Abu Hurairah Ra bahwasanya beliau mendengar Rasulullah Saw bersabda;Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di pintu yang digunakan untuk mandi setiap hari lima kali, pa yang kalian katakan apakah tersisa kotorannya? Mereka menjawab; Tidak sisa sedikitpun kotorannya. Beliau bersabda; sholat lima waktu menjadi sebab Allah hapus dosa-dosa. (HR Al Bukhori).
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ
Dari Abu Hurairah Ra bahwasanya Rasulullah Saw bersabda; Sholat lima waktu dan jum’at ke jum’at dan Romadhon ke Romadhon adalah penghapus dosa diantara keduanya selama menjauhi dosa besar (HR Muslim)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً
Dari Abu Hurairah Ra bahwasanya Rasulullah Saw bersabda; “Siapa yang berwudhu di rumahnya lalu berjalan menuju rumah di antara rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban (dari) Allah maka salah satu dari kedua langkahnya menghapus dosa-dosa dan yang lain meninggikan derajat.” (HR. Muslim).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar