HATI YANG LEMBUT Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah, adalah orang yang berdoa kepada Rabbnya dalam kesendirian sambil menitiskan air mata?
Tentunya begitu sukar menitiskan air mata sewaktu berdoa jika hati seseorang itu tidak lembut.
Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendirian adalah maksiat. Bahkan banyak manusia yang bermaksiat apabila bersedirian didalam bilik.
Seorang mukmin sejati akan menangis dalam kesendirian dikala berdoa kepada Tuhannya. Sedar betapa beratnya tugas hidup yang harus dipikulnya di dunia ini.
Di zaman ketika manusia lalai dalam gemerlap dunia, seorang mukmin akan sentiasa menjaga diri dan hatinya. Menjaga kelembutan dan kepekaan jiwanya.
Dia akan mudah menitiskan air mata demi melihat kehancuran umatnya. Kesedihannya begitu mendalam.
Kita tidak akan melihat seorang mukmin bersenang-senang dan bersuka ria ketika jirannya mengalami kesedihan, ditimpa berbagai ujian, cubaan, dan fitnah.
Mukmin yang sebenar akan dengan bersedia membantu meringankan segala beban saudaranya. Ketika seorang mukmin tidak mampu menolong dengan tenaga ataupun harta, dia akan berdoa memohon kepada Tuhan semesta alam.
Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap kebenaran.
“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata: “Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad)”. (QS. Al Maidah: 83).
Ja’far bin Abdul Muthalib membacakan surat Maryam ayat ke-16 hingga 22 kepada seorang raja Nasrani yang bijak. Mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, bercucuranlah air mata raja Habsyah itu.
Dia mengakui benarnya kisah Maryam dalam ayat tersebut, dia telah mengenal kebenaran itu dan hatinya yang lembut menyebabkan matanya sembab kemudian menangis.
Raja yang rindu akan kebenaran benar-benar merasakannya.
Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis apabila dibacakan ayat-ayat Allah. Bahkan ketika datang teguran dari Allah sekalipun, dia akan tertawa atau malah berpaling dari kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar